Postingan

Gagal Berteman Itu Tidak Menyenangkan

Kalian pernah gagal dalam berteman? Aku pernah. Aku adalah orang yang senang mengamati lalu lalang dan tingkah laku orang sekitar. Aku termasuk orang yang tidak gampang menaruh perasaan negatif ketika ada orang yang mengeluarkan kata-kata bully. Sekedar mencairkan suasana, batinku. Toh, aku juga suka bercanda dan ngebully. Aku pun selalu tersenyum dan menimpali balik dengan candaan atau kalimat apalah sekedar membalas biar ga serasa dicuekin. Aku juga pernah melakukan kesalahan dan karena kesalahan itu aku jadi dibully, oke deh aku terima dengan lapang dada. :v Tidak akan aku membalas bully-an yang memang aku salah, salah? yawes pasrah. :v Hingga suatu saat, ada seorang yang biasa membully mengeluarkan kata-kata yang keterlaluan. "Ternyata kamu pintar ya, pilih yang itu, pantes" ( ini dalam konteks materi harta) Aku sih nangkepnya, orang tersebut menganggapku mata duitan, cewek materai 6000. Hah! Ini mah bukan ngebully, ini fitnah! Pit Nah! Kecepit Nah Nah Nah! (t...

Kini Aku Di Semarang

Lama tidak posting, ahay, sekarang aku mau bercerita mengenai perpindahan kerja ke Semarang. Semarang. Kota yang panas, begitu bayanganku, dan ternyata memang panas. Aku datang ke kota ini  bareng ayahku. Dan kami berdua mencari kosan dengan bantuan abang becak (ini yang selalu di komentarin absurd oleh orang-orang, aku berani datang langsung cari kosan, kalau gak dapat gimana? Kami absurd, mereka lebih absurd, optimis kek, usaha kek, toh kami dapat juga). Nah, lanjut ... Kamarnya cukup luas dengan springbed cukup untuk tiga orang. Wuenak, gegoleran lebih nyaman cuy! Dan harganya gak semahal yang di Jakarta Pusat. Begitulah gambaran awal aku datang. Semakin hari semakin kunikmati Semarang, dari yang awalnya jalan kaki lalu sekarang bawa sepeda motor, aku suka kota ini! :D Apalagi liuk-liuk dan jalannya yang naik turun, uhuy! Bukan naik turun kek macem di gunung dengan jalan setapak, ini beraspal dan sepanjang jalan udah modern tapi jalannya naik turun hihihi Aku juga kag...

Banyak Cara Mendapatkan Uang, Kenapa Harus Dengan Menipu?

Minggu lalu aku pergi ke pasar kaget, pasar yang ada setiap hari minggu di sepanjang Jl. Kramat 2 Jakarta Pusat. Aku senang melihat banyak orang menjajakan dagangan yang bermacam-macam, mulai dari baju, tas, sepatu, hingga berbagai jenis jajanan pasar dan makanan berat. Aku larut dalam ramainya hiruk pikuk orang-orang yang menyusuri jalan dengan perlahan sambil lihat kanan kiri, kali aja ada yang menarik untuk di beli. Barang-barang yang dijual disini murah karena rata-rata yang punya lapak adalah pedagang pasar tanah abang yang menyempatkan minggu paginya untuk menggelar dagangan di kawasan ini. Karena padatnya orang, maka langkahku terhenti sejenak, macet. Di sela-sela macet itu aku tetap melemparkan pandanganku ke sekitar, mengamati orang-orang. Hingga secara tak sengaja pandanganku tertuju pada seorang pengemis yang duduk bersila di tengah jalanan pasar. Tak ada yang mencolok dari pengemis lelaki itu. Baju kotor, kulit kusam, tapi nampaknya dia belum seberapa tua. Yang meng...

Tuhan Yang Menautkan

Lama tak menulis di buku maya, bukan berarti tak ada cerita tentangku. Beberapa alur baru sedang kujalani dan ingin kubagi agar tak lekang di memori. Dua ribu tiga belas, tahun yang mungkin angkanya tidak cantik, tapi tahun ini tahun yang benar-benar mempercantik cerita hidupku. Andai saja aku tidak punya kepercayaan yang tinggi akan cita-cita yang dulu kubuat, bisa saja tahun 2013 jadi tahun yang sangat berantakan. Tidak ada yang lebih berantakan dari orang yang kehilangan cita-citanya bukan? Tidak ada tawaran pekerjaan yang lebih menarik dari pekerjaan yang diharapkan orang tua untuk anaknya. Jadi ketika beliau berdua tak lagi di dunia, mereka sudah tau pasti anak mereka tak akan hidup sengsara. Ya, aku seorang penurut, selama orang tuaku masih hidup aku ingin membuat mereka bahagia. Itu cita-citaku. Dan sekarang aku mendapatkan apa yang beliau berdua mau, dengan begitu, ridho Allah sudah di tanganku bukan? Karena ridho orang tua bersamaku. Insya Allah. Dua ribu tiga bela...

Tak Ada Yang Sia-Sia Kok

Yap, hari ini aku mengobrol dengan seorang sahabat yang aku yakin ia benar-benar lagi suntuk berat. Ia bercerita kalau ia hari itu tidak bisa berhenti menangis padahal ia sangat jarang menangis. Ia teringat ayahnya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ia mengatakan kalau ia tidak pernah sekalipun menangis di depan keluarganya, bahkan tidak pernah bilang 'kangen ayah' di depan keluarga yang lainnya. Tapi setiap ia sendiri, ia meneteskan air mata, ia sadar sebenarnya ia rapuh. Ia benci menjadi anak tunggal, anak yang selalu jadi tumpuan, tidak dididik untuk manja (mungkin berbeda dg tipe anak tunggal yang biasanya dimanja). Aku menyuruhnya bercerita, karena aku yakin dengan ia menceritakan kepenatannya, agak sedikit berkurang suntuknya. Ia bilang ia ingin suatu kenyamanan bukan kepura-puraan tegar yang selalu ia tampakkan di depan keluarganya. Ia pikir ia sudah terlalu letih. Ya, terdengar menyedihkan. Tapi aku rasa ia wanita hebat. Aku yakin kepenatan itu sudah terlalu me...

Hormon! Ini Semua Salahmu!

Pagi ini memang berjalan seperti biasanya. Ibu bangun subuh untuk memasak, ayah bangun untuk olahraga bentar, aku membantu adik laki-lakiku siap-siap ke sekolah. Jangan tanya adikku yang perempuan kemana, lagi indehoy di kasur dianya :p Semua berjalan seperti biasa, belasan tahun seperti ini, bedanya dulu aku juga ikut siap-siap ke sekolah :)) Nah, sewaktu memakaikan seragam untuk adik, satu kalimat yang paling tidak ingin aku dengar terucap lagi dari ayahku, satu kalimat yang selalu bikin aku campur aduk, satu kalimat yang bikin otakku egois karena ketika kalimat itu terucap ia membiarkan hati saja yang bekerja. "Kalau Mbak Dyah sudah kerja, siapa ini yang nemenin Mas Doni? Cepet pinter nak biar kayak Mbak Dyah " Oh my, bertahun-tahun udah membuatku kuat untuk memikirkan hal itu, seharusnya sudah gak jadi masalah buatku dengan kalimat pagi ini. Aku sadar aku hari ini sangat sensitif ketika tiba-tiba mataku berkaca-kaca, tapi kali ini aku menyalahkan hormon karena memang...

Human Potential Laboratory Result

Mau sedikit membahas mengenai hasil dari Human Potential Laboratory adik bungsu saya yang autis. Di dalam hasil tes ini dipaparkan mengenai kemampuan dominan otak  dan bagaimana kecenderungan penerimaan informasi si pelaku tes. Dan hasil yang cukup mengejutkan yang kami dapat. Dikatakan di situ bahwa adik saya memiliki kemampuan dominan otak kanan atas dan kanan bawah (kreatif, optimistik dan inovatif) dengan prosentase dominasi 91% dan untuk otak kiri atas dan otak kiri bawah (analitik, faktual, dan hal-hal logis) memiliki prosentase 69% Untuk kecenderungan sensitivitas menerima informasi, ini hasilnya yang bikin wow sekeluarga -__- Dalam tes audiotori (medengarkan, berbicara), tes visual (melihat, imajinasi), tes kinestetik (merasa, menangani) dia berada di level yang paling tinggi/sangat kuat. Yang artinya dijelaskan disitu kalo si pelaku tes adalah seorang yang sangat sanggup multitasking, kemampuan inderanya bekerja dengan sangat baik. Kami sekeluarga langsung huwaw sekal...